LOADING

Type to search

Penelitian. Ganja Tidak Bisa Atasi Stres dan Rasa Sakit!

Seputar Narkoba

Penelitian. Ganja Tidak Bisa Atasi Stres dan Rasa Sakit!

Share

Meskipun masuk dalam kategori barang berbahaya, selama ini ganja sering dikaitkan dengan manfaat untuk mengatasi stres dan menurunkan rasa sakit. Selain itu, banyak orang yang beranggapan jika ganja memiliki sejumlah manfaat, salah satunya untuk mengatasi masalah Alzheimer.

Penelitian yang dilakukan US Department of Veterans Affairs, Amerika, menyebut lebih dari 80 persen responden yang rutin menggunakan, beralasan jika tanaman ini (terpaksa) digunakan karena punya menghilangkan istimewa dalam menghilangkan rasa sakit.

Selain itu, lebih dari 1/3 peserta penelitian pun beralasan jika mereka menggunakan ganja sebagai obat PTSD (post-traumatic stress disorder), atau gangguan stres pascatrauma.

Benarkah seperti itu?

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Internal Medicine, mengungkap jika manfaat ganja terkait penghilang rasa sakit dan meredakan stres masih dipertanyakan. Hal ini merujuk pada penelitian yang mengkaji ulang sebanyak 27 studi sebelumnya terkait penggunaan ganja untuk mengatasi nyeri kronis.

Justru sebaliknya, dalam penelitian ini mereka menemukan bukti yang kuat jika penggunaan ganja di masyarakat umum meningkatkan risiko kecelakaan mobil, gangguan kognitif jangka pendek, gejala psikotik dan beberapa dampak buruk lainnya.

Selanjutnya, tim peneliti kemudian meninjau ulang data dari beberapa ulasan studi yang menilai penggunaan ganja efektif untuk mengatasi PTSD atau stres pascatrauma pada orang dewasa.

Hasilnya, tim peneliti menyebut jika studi tersebut masih sangat lemah karena tidak didukung oleh sejumlah data ilmiah, dan jumlah peserta yang tidak menggunakan ganja, tidak ikut dilibatkan sebagai pembanding. Sehingga, dapat disimpulkan jika efektivitas penggunaan ganja masih diragukan.

Sebaliknya, penelitian lain yang melibatkan beberapa veteran perang dengan gangguan PTSD (stres pacatrauma), menunjukan jika gejala stres mengalami peningkatan, meskipun tingkatnya masih sangat kecil.

Mengenai hasil penelitian ini, profesor dari Brown University School of Public Health, Jane Metrik, menyarankan agar penggunaan ganja sebagai metode perawatan perilaku kognitif bagi veteran perang harus dibatasi, minimalnya hanya digunakan sebagai obat masalah tidur saja.

Sedangkan untuk penggunaan lainnya, Metrik menyarankan agar para ilmuwan melakukan kajian lebih mendalam lagi untuk membuktikan penggunaan ganja sebagai obat merupakan hal yang positif.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *