LOADING

Type to search

Meski Sama-sama Buruk. Stres dan Depresi Itu Beda? Begini Kata Psikolog

Seputar Narkoba

Meski Sama-sama Buruk. Stres dan Depresi Itu Beda? Begini Kata Psikolog

Share

Pernah membaca artikel kesehatan yang membahas tentang stres? Saat menyebut kata stres, biasanya kita akan menemukan kata depresi sebagai imbas atau timbal balik dari stres tersebut. Padahal kalau dilihat dari dampak dan gejalanya, keduanya terlihat sangat mirip.

Lantas, apa beda antara stres dan depresi?

Psikolog klinis dari Personal Growth, Veronica Adesla, menjelaskan jika stres merupakan kondisi mental yang membuat kamu merasa tidak nyaman akibat dari sebuah persoalan. Misalnya karena pekerjaan, masalah keluarga dan lainnya.

Lebih lanjut lagi, Veronica menjelaskan jika stres terbagi dalam dua jenis, yakni

  1. Eustress, tekanan secara pikologis yang malah membuat kamu lebih semangat untuk mengatasinya. Misalnya, saat dihadapkan pada pekerjaan sulit, kamu makin tertantang untuk menaklukkan pekerjaan tersebut dengan hasil terbaik.
  2. Distress, tekanan secara psikologis yang malah membuat kamu down. Kamu merasa jadi orang paling teraniaya, sehingga timbul keinginan untuk lari dari masalah tersebut dengan cara bermalas-malasan, mengkonsumsi minuman keras dan reaksi negatif lainnya.

Singkat kata, kedua jenis stres tersebut dibedakan dari bagaimana cara kamu bereaksi. Jika positif (dijadikan tantangan untuk menguji kemampuan atau sebagai ajang belajar untuk jadi lebih baik), maka masuk dalam kategori eustress, jika sebaliknya, disebut distress.

Bagaimana dengan depresi?

Veronica menjelaskan jika depresi merupakan imbas dari distress yang tidak tertangani dengan baik. Kondisinya hampir sama, mereka yang depresi akan merasa jadi orang yang paling teraniaya, marah, dan cemas, tapi dalam kadar yang lebih parah dari distres.

Umumnya, saat sudah masuk dalam fase depresi, reaksi yang ditimbulkan cenderung negatif, seperti mengurung diri dalam kamar, merokok, konsumsi minuman keras hingga narkoba. Jika tidak tertangani dengan baik, depresi berisiko membuatmu mati karena bunuh diri atau overdosis obat-obatan terlarang.

Maka dari itu, saat berhadapan dengan sebuah masalah, berikan reaksi positif dari masalah tersebut, bukan malah lari dengan melakukan hal-hal yang negatif. Jika masalah tersebut dirasa sangat berat, segera cari bantuan dengan bicara bersama keluarga, atau minta bimbingan psikolog.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *